| Persiapan |
Tidak hanya penyelenggara acara yang sibuk menyiapkan tempat, peserta perang mading VI dari seluruh eks-Karisidenan Kediri mulai berdatangan. Kru mading dari masing-masing sekolah sedang menata mading mereka di tempat yang telah ditentukan melalui pengundian.
Dengan penuh semangat dan rasa bangga mereka menampilkan mading hasil karyanya. “Senang, madingnya sudah jadi. Senang juga ikut lomba ini. Bisa nambah teman dan pengalaman”, ungkap Lukluk Khoirul Habibah, salah satu kru madding MTsN Kediri 2.
Dengan penuh semangat dan rasa bangga mereka menampilkan mading hasil karyanya. “Senang, madingnya sudah jadi. Senang juga ikut lomba ini. Bisa nambah teman dan pengalaman”, ungkap Lukluk Khoirul Habibah, salah satu kru madding MTsN Kediri 2.
Sesuai dengan tema yang diangkat dalam School Contest VI kali ini yaitu modern ethnic, majalah dinding (mading) yang ditampilkan pun sangat kental dengan nuansa modern dan ethnic. Salah satunya, mading buah karya siswa MTsN Kanigoro yang mengambil judul besar “Kreasi Unik Siswa MTsN Kanigoro”. Mading tiga dimensi yang berbentuk mobil VW ini, diberi motif batik pada bodi mobilnya. “Bentuk mobil menggambarkan modern, sedangkan motif batiknya mewakili sisi ethnic mading kami”, jawab Alvin Avia Apriliana, salah satu kru mading MTsN Kanigoro saat ditanya mengenai konsep madingnya.
Selain itu, MA Al Huda juga mencoba merepresentasikan tema modern ethnic ke dalam majalah dinding karyanya. “Kami mebuat mading yang berbentuk bola dunia yang digenggam sebuah tangan”, kata Setiawati, kru madding MA Al Huda yang ikut mempersiapkan mading sekolahnya di ballroom Kediri Mall hari ini. Majalah dinding yang terinspirasi dari tokoh Atlas yang menggenggam dunia tersebut, bermaksud menyampaikan pesan agar masyarakat Indonesia menjaga eksistensi kebudayaannya sehingga peristiwa diklaimnya beberapa karya asli Indonesia oleh negara tetangga tidak terulang lagi. Ketika ditanya menenai konsep majalah dinding yang terbilang unik ini, Norma, guru pendamping MA Al Huda, menjelaskan bahwa pihak sekolah memberikan kebebasan kepada murid-muridnya untuk menuangkan kreativitasnya. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa siswa-siswinya mengajukan konsep mading yang dibuat dalam bentuk proposal, kemudian pihak sekolah tinggal memberikan masukan. Saat ditanya mengenai total biaya yang dihabiskan dalam proses pembuatan mading tersebut, Norma enggan memberikan jawaban secara langsung. “Ada dana dari sekolah, ada dana dari urunan siswa, meskipun tidak banyak. Total dana yang dihabiskan tidak terlalu besar karena, kami banyak menggunakan bahan bekas”, jelas Norma.



0 komentar:
Posting Komentar