Pages

Subscribe:

Kamis, 22 Maret 2012

Unjuk Kreatifitas dengan Barang Bekas

Mading SMKN 1 Plosoklaten
KEDIRI-Menyambut datangnya final party School Contest VI esok hari (23/03) semua pihak yang terlibat terus berbenah. Salah satu yang tak kalah sibuk adalah peserta perang mading VI. Mereka berlomba-lomba menciptakan majalah dinding terapik, terunik, dan termenarik. Berbagai cara pun ditempuh demi menjadi yang terbaik. 
“Eksotisme Budaya yang Tergerus Peradaban” adalah judul besar yang dipakai oleh majalah dinding karya siswa SMKN 1 Plosoklaten. Mading yang berbentuk lumbung padi asal Sulawesi Selatan, yang disebut dengan Lappo ase tersebut, mempunyai banyak keunikan. Salah satu keunikan tersebut berasal dari barang-barang bekas yang dijadikan sebagai bahan baku. Botol bekas, kardus, hingga koran bekas adalah sederet barang tak terpakai yang mereka manfaatkan untuk menambah daya tarik majalah dinding sekaligus meminimalisir biaya. “Barang bekas itu cocok
untuk mempercantik mading kami, mudah didapat, dan irit biaya”, ungkap Dina Aulia, salah satu kru mading SMKN 1
Plosoklaten. Ia juga menambahkan bahwa mading sekolahnya menelan biaya tidak sampai Rp.300.000,00. Mading yang sumber inspirasinya datang dari jurusan mereka di SMK yaitu, jurusan pertanian, memerlukan waktu sekitar dua minggu untuk diselesaikan. Ketika ditanya tentang cara memperoleh barang bekas yang mereka pakai, salah satu kru mading SMKN 1 Plosoklaten yang lain, Sefi C. L. mengatakan bahwa kru mereka mencari barang bekas di sekitar sekolah.
Mading MTsN Kediri 2
Selain mading barang bekas ala SMKN 1 Plosoklaten, ada pula majalah dinding buatan siswa MTsN Kediri 2 yang berbentuk rumah adat Papua yaitu, rumah Honai. “Kami mendapat ide seperti ini karena, salah satu teman kami adalah anak asli Papua, sehingga kami merasa penasaran untuk menelusuri lebih jauh tentang Papua”, papar Salsabila Ronia, kru mading MTsN Kediri 2. Majalah dinding yang dibuat sekitar satu minggu ini, berbahan dasar kurungan ayam, bungkus semen, juga rambut sapu bekas. Selain itu, kru madding MTsN Kediri 2 juga memperoleh sumbangan botol air mineral dari masing-masing kelas yang ada di sekolah tersebut. Sumbangan itu pula yang dimanfaatkan sebagai bahan baku majalah dinding mereka.
Terdapat sangat banyak majalah dinding yang dibuat dari barang bekas pada School Contest VI kali ini. Ketika ditelusuri satu-persatu, maka akan ditemukan bahwa pemanfaatan barang bekas mendominasi majalah dinding karya pelajar se eks-Karisidenan Kediri. Kru mading asal SMAN 7 Kediri pun tak mau ketinggalan. Mading dengan judul “The Hidden Exotica” karya mereka juga menggunakan barang bekas sebagai bahan bakunya. “Kami menggunakan sak semen, triplek, koran bekas, dan kayu bekas kursi dan meja di sekolah yang sudah rusak sebagai bahan baku mading ini”, jawab Amira Fauziyah, kru mading SMAN 7 Kediri. Ia juga menambahkan bahwa proses penggarapan majalah dinding tersebut memakan waktu selama dua bulan. Mading yang berbentuk goa tersebut bermaksud menggambarkan Goa Gong yang merupakan salah satu peninggalan sejarah.
Adanya perang mading sebagai bagian dari School Contest VI menjadi ajang menyalurkan bakat dan kreativitas pelajar seluruh eks-Karisidenan Kediri dalam bentuk mading khususnya. Acara tersebut juga memberikan dorongan kepada para pelajar agar lebih peduli terhadap lingkungannya. Salah satu buktinya adalah penggunaan barang bekas dalam majalah dinding karya para pelajar tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar